Nyanyian Angin

Langit malam ini begitu cerah, ditemani berjuta bintang gemintang, malam ini begitu bening. Tapi sepertinya aku tak seberuntung langit. Aku disini kesepian dan tersiksa kerinduan, yang dapat kulakukan hanyalah menyanyi diiringi sebuah gitar dan aku berharap angin menyampaikan nyanyianku ini kepadamu yang entah berada dimana.

Hari-hari lambat kulalui tanpamu dan begitu membosankan. Dulu, aku dan kau  layaknya malam dipenuhi bintang, begitu indah. Dulu, aku seperti pohon dan kau daun yang merimbuninya, begitu menyejukan. Aku kehilangan itu, benar – benar kehilangan itu.

Entahlah, mengapa kau menjelma udara untukku bernafas, menjelma air untukku hapuskan dahaga, menjelma matahari, bulan, bintang dan dalam setiap detik waktuku tak bisa aku melepaskan bayanganmu dari pikiranku. Kau tahu aku tersiksa dengan banyangan-bayanganmu itu?

Sejak kecil kita selalu melawatkan waktu bersama, dimana angin selalu bernyanyi dan kita mengiringnya dengan tarian-tarian seperti capung-capung dipadang rumput.

Entah raib kemana ragamu, hingga tak kutemukan kau dimana pun. Tak ada diantara semak-semak, juga tak ada dibalik pohon dimana dulu biasa kau bersembunyi. Mungkinkah kau tersesat saat kau bermain sendirian dan tak tahu jalan pulang? Ataukah bumi menelanmu karena saat bermain kau terlalu keras menginjak-injaknya dan ia marah padamu?

Ah, sudahlah! Aku bosan menebak kemana ragamu itu pergi, yang jelas saat ini bayanganmu terus saja menguntit pikiranku, kemanapun aku pergi kau selalu tak ingin ditinggalkan, bahkan saat aku berusaha menyimpanmu dibawah sadarku sedetik saja, kau terus berusaha untuk keluar dan semakin memenuhi otakku. Membuatku benar – benar pusing, aku begitu rindu akan kau.

Mengapa rasa ini semakin gila saat kau hilang? Apakah ini yang dinamakan cinta? Tidak, aku tak ingin mengaku ini cinta. Aku tak ingin jatuh cinta, apalagi kepadamu, karena kau kejam meninggalkanku tanpa makna, membiarkanku setiap malam dihujani rindu yang sangat deras yang tak henti-hentinya.

Malam ini semakin larut, bersama khayalanku yang terbang ke angkasa, bersama fikiranku yang menjelajah entah kemana.

Kau menjelma seseorang pangeran berkuda yang sangat tampan, kemudian dengan mencium tanganku kau berikan pula setangkai mawar merah. Seperti layaknya dalam dongeng, dan dengan sekejap kita talah menari di pesta dansa kerajaan dengan seribu mata memandang iri pada kita. Diiringi juga dengan bisaikan-bisikan yang membuat hatiku senang tiada tara.

Khayalanku berganti, kau menjelma seorang samurai sejati dan aku menjadai aura dalam pedangmu. Kita adalah kekuatan yang tidak bisa dipisahkan, yang sanggup mengalahkan beribu prajurit perang.

Khayalanku berganti lagi, kau menjelma malaikat bersayap putih dan menjemputku untuk menari diatas mega-mega. Saat aku sadar, hatiku remuk berkeping-keping. Aku benci mengapa aku seperti ini, aku benci selalu berkhayal tentangmu.

Tapi malam ini tetap akan kuhabiskan untuk menggali kuburan sajak-sajakku dan kubuat menjadi sebuah lagu untukku sampaikan padamu lewat angin.

And the moment I can feel that, you feel that way too. Is when I fall in love with  you.

Bahagianya aku. Aku mendengar suaramu. Akhirnya meski engkau berada entah dimana, kau mendengarku dan membalas nyanyianku dengan lagu itu. Dengan lagu yang dulu sering kau nyanyikan untukku. When I fall in love. dan lewat angin pula kau berjanji, besok sore kau akan menemuiku dipadang rumput agar kita bisa menari lagi seperti dulu. Menari seperti capung-capung dipadang rumput.

Hari ini aku memantas-mantaskan baju di cermin, melakukan sesuatu hal yang dulu tak pernah kulakukan saat akan bertemu denganmu. Bagaimana tidak? Saat ini aku akan bertemu dengan kekuatanku, ialah kau samuraiku. Seseorang yang selalu membuatku merasa hebat, ialah kau pangeran berkudaku. Seseorang yang senantiasa membuat malam-malamku menjadi tenang, ialah kau, semua adalah kau.

Kau pasti akan terkejut melihatku, melihat teman kecilmu yang tumbuh seperti bunga teratai putih.

Aku menunggumu disini, dipadang rumput ini, aku tak tahu sudah berapa lama, tapi rasanya senja seribu kali menjadi merah. Tapi aku tetap saja  menunggumu.

Mengapa kau tak datang menepati janjimu? Aku hanya melihat seseorang datang padaku. Seorang yang telah amat renta, badannya  bungkuk, ia mendekatiku, menghampiriku. Ia memandangiku dari ujung kaki sampai ujung rambutku, tak ada yang terlewatkan. Seperti orang yang begitu sangat rindu. Ia tak lepas memandangiku. Entahlah aku merasa ia menemukan sesuatu yang selama ini dicarinya.

“Rani kau kah itu?” Ia bertanya kepadaku .

“Kau mengenal aku kek? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Aku balik bertanya.

“Bagaimana tidak? Aku tak tahu harus bagaimana aku meminta maaf kepadamu, karena sore itu aku tak menepati janjiku, aku tak datang menjumpaimu. Aku tak tahu bagaimana aku harus meminta maaf padamu karena dulu aku meninggalkanmu. Dan kini kau masih tetap  menungguku disini, hingga kita telah sama-sama renta.” Ucapnya.

Tidak, ini tak benar. Ini tak mungkin terjadi, ini sama sekali bukan kenyataan. Kau terlalu tua untuk jadi pangeranku, kau terlalu lemah untuk menjadi samuraiku. Kau pun tak mungkin jadi malaikatku dan yang lebih mengerikan, kulitku telah keriput, begitupun dengan seluruh rambutku yang telah jadi putih, aku telah tua.

Jadi selama ini aku hidup dalam khayalan, menunggumu, tak henti menunggumu. Menyia-nyiakan masa mudaku yang cantik hanya untuk menunggumu? Tidak…!

Ternyata aku membenci pertemuan ini. Pertemuan yang menyadarkanku bahwa kau tak sempurna, bahwa kau lemah adanya. Aku membenci pertemuan ini. Pertemuan yang menyadarkanku bahwa kau dulu benar- benar tak pernah datang padaku.

Tidaaak…!

Ah, aku terbangun. Matahari sudah mulai turun ke balik bumi. Aku ternyata bermimpi. Mungkin tak ada gunanya aku menunggumu. Karena mungkin disana kau tak merasakan sesuatu yang sama denganku. Aku tak ingin hidupku sia-sia. Esok hari akan kubuat bahagia meski tanpamu. Tak kan ada lagi nyanyian angin untukmu. Aku pulang saat senja mulai menjadi malam dan bayanganmu pun semakin samar, semakin pudar dan ajaib hilang begitu saja. Angin membelaiku lembut dan aku menarik nafas lega.

Aku harus menghadapinya sekarang, menghadapi kenyataanku. Bahwa kau tak pernah mencintaiku sebesar aku mencintaimu.

(Aku buat cerpen ini saat masih SMA sekitar tahun 2004, terinspirasi dari sebuah naskah drama asing tentang sepasang kakek nenek yang bertemu pada suatu pagi yang bening, sebenarnya tak mirip sama sekali tapi tiba-tiba jadilah cerpen ini)
Iklan

6 thoughts on “Nyanyian Angin

  1. cerpen yg dahsyat, A suka
    oh jadi karena ini kau suka pagi bening 🙂
    *****************************
    Lucu aja namanya. Pagi adalah awal hari maka harus diawali dengan indah, bening, sejuk, penuh semangat.

  2. Subhanallah.. Semasa SMA saja sudah membuat karya seindah ini.. ‘Waktu’ akan menempa dan membuat lebih hebat lagi..

    Salam kenal, dan terus tebarkan inspirasi melaui tulisan-tulisan di blog ini..
    ********************************************************
    Alhamdulillah. Syukron. Amiin. Salam Kenal juga 🙂

  3. nampaknya dirimu sejak kecil gandrung dengan cerita, akhirnya memang membaca memang baik tapi menulis lebih baik lagi . cerpen yang bening . heu .

    salam kenal . dan tetaplah berkarya . semoga blog ini akan menjadi pabrik ceritamu . 😉
    ************************************************************************************************************************
    Makasih. 🙂 Iya Semangat.

  4. Prosa lirik yang indah, teruslah berkarya, saya yakin kelak kau akan jadi sastrawan besar. Coba juga kirim karyamu (puisi, cerpen, prosa lirik) ke majalah remaja (Gadis, Hai, dll). Semoga ada penerbit yang tertarik membukukan karya-karyamu! Salam dari jendelakatatiti.wordpress.com.
    ******************************************************************************************************************************
    Amiin. Makasih support & spirit nya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s