Betapa Aku Mencintaimu A 1

Mamah setengah terkejut ketika dinyatakan positif hamil lagi. Saat itu tahun terakhirku di SD. Dikeluargaku aku adalah anak sulung yang mempunyai 2 adik perempuan. Meskipun menurut mamah tak ada bedanya antara anak laki-laki dan perempuan, tapi wajar saja kali ini mamah ingin sekali dikaruniai anak laki-laki.
“Tok.. tok.. tok. Permisi!” Terdengar pintu diketok. “maaf saya mau menukarkan cowet dengan ulekan punya ibu, boleh?” Kata tetangga samping rumah. Kebetulan beliau pun sedang hamil dan terus menerus dikaruniai anak laki-laki, mungkin maksudnya supaya beliau dapat putri dan mamah dapat putra. Mamahku tak bertanya apa-apa dan langsung kedapur menukarkan cowet dengan ulekan milik tetangga itu.

Hihi… dikampungmu ternyata masih ada kebiasaan seperi itu. Padahal yang menentukan adalah Allah. Tapi memang kebetulan akhir Desember 1999 tetanggaku lebih dahulu dikaruniai seorang putri yang mungil dan cantik mirip dengan Oseu, adik pertamaku.
Suatu malam, ketika itu mamah sedang hamil tua, papa menyewa sebuah mobil untuk mengajak mamah periksa ke dokter kandungan.
“Selamat pak. Anak bapak laki-laki!” Begitu jelas terlihat di layar USG bahwa bayi dalam perut mamah adalah laki-laki. Tak henti-hentinya papa mengucapkan rasa syukur pada Sang Pencipta.
“Trimakasih dok, trimakasih!” Dengan semangat dan senyumnya yang khas papaku langsung menyalami dokter, erat sekali.
“De Via gugah, adena tos lahir.” Kata Ua membangunkan aku. Aku melihat jam didinding. Jam 2 pagi, aku ingin menangis rasanya, menyesali kenapa bisa ketiduran, padahal semalaman aku menunggu, ingin sekali melihat mamah melahirkan. Aku lihat sekeliling, banyak sekali yang datang, maklum hari itu adalah hari terakhir di bulan Ramadahan, jadi saudara-saudara pulang mudik ke Kawali. Lengkap sekali rasanya. Ada nenek, kakek, paman, bibi, kakak, ua. Aku tambah sedih semua orang melihat mamah melahirkan sedangkan aku tidak.hiks.. hiks..
“De Via, tingali adena mani kasep.” Aku menghampiri ua yang sedang menggendong bayi laki-laki. Lucu sekali.
Mamah dan papa memberikan nama pada bayi itu Muhamad Azhar. Semoga ia tumbuh menjadi orang yang terpuji dan harum seperti namanya, karena nama adalah do’a dan harapan setiap orang tua. Amiin.
Mamah mengajari aku untuk menggendong bayi kecil itu. Bisa sih, tapi aku gak bisa bergerak takut salah. Aku hanya meandangi adik kecil dipangkuanku lamaaaaaa sekali.
Ketika umurnya 2 tahun, bapak mantri menyarankan supaya adeku disunat saja. Aku tak tahu kenapa sekecil itu sudah harus disunat, tapi tanpa pesta dan penuh kesederhanaan, adeku disunat.
Aku pikir dia lebih istimewa, celotehannya atau caranya berbicara, lucu dan pintar sekali dibandingkan anak seusianya, aku sering mengantarnya ke TK dan menungguinya sampai pulang sekolah, aku selalu memperhatikannya, sesekali aku mengintip dari balik jendela kedalam kelas . Setelah masuk SD setiap nilai matematikanya selalu dapet nilai 10, meskipun kerjaannya tiap hari main PS dan tak pernah belajar. Hanya saja nilai yang lainnya jeblok.
Tapi jangan coba-coba so ramah kalo belum dikenalnya, jahilnya minta ampun. Teman-temanku atau teman-teman adeku sering ngeluh sampai lari keluar rumah karena dijailin adikku. Ada yang dilempari kerikil atau dihadiahi petasaan saat masuk rumah.
Dulu aku memanggilnya dengan panggilan Azhar atau Ajay, tapi dia selalu protes.
“Sanes Ajay abi mah, Aa kituh!!!!” Sejak saat itu aku selalu memanggilnya dengan sebutan Aa.
Jika aku lama tak pulang rumah karena jadwal kuliah dibandung padat, iya ja’im dan tak pernah menyapaku, aku seperti orang asing baginya. Tapi jika sudah mulai akrab lagi dia selalu bilang.
“Teteh pami abi tos uih sakola, jalan-jalan yuk!!!” Memang aku kakak yang paling dekat dengannya. Kata mamah pun Aa itu mirip banget dengan teteh waktu kecil. Sifatnya, tubuhnya mirip sekali.ia pun selalu ingin disamakan denganku. “Abi mah mirip teh via da.” Katanya.
Menurutku, ia sangat mirip dengan papa. Aku sering melihatnya berangkat sekolah dibonceng papa, seperti orang yang sama tapi beda umur.hihihi…
Aku selalu mengajaknya jalan-jalan dan membeli eskrim, kemudian duduk di depan kawadanan. Disitu ada pendopo dan lapangan kecil. Kita biasanya duduk dibawah pohon sambil menghabiskan eskrim dan makanan kecil berdua, terkadang ia suka ikut bermain bola jika ada anak-anak seusianya main disana dan aku duduk manis menungguinya.hihi..
Jika aku dan adik-adik perempuanku curhat di kamar, Aa biasanya masuk dan naik keatas kasur sengaja memukul atau menindih kita bertiga, sehingga suasana kamar jadi gaduh dan tak tenang. Kadang ada yang dipukul atau ditindih hingga sulit bernafas. Ya begitulah anak-anak selalu cari perhatian. Tapi aku menikmatinya, suasana rumah jadi rame. Aa sering biikin aku sakit perut karena kebanyakan ketawa disebabkan imajinasi dan tebakannya yang aneh-aneh.
Ada yang aku tak mengerti dari adikku ini. Aa itu sangat penakut tapi juga sangat pemberani. Entah sejak kapan jika malam tiba, dia selalu minta tidur ditemani mamah atau aku. Saat tidur tubuhnya berkeringat, kadang-kadang gundam, kasurnya harus selalu dipenuhi bantal atau boneka, padahal ia paling gak ingin disamakan dengan perempuan, ga pernah mau pakai apapun yang kecewek-cewekan, tapi harus selalu dikelilingi boneka karena ketakutan.
Mungkin gara-gara dulu aku pernah nonton film tentang siksa kubur, trus Aa gak sengaja lihat, mungkin bagi anak kecil itu terlalu menakutkan. Pernah aku tanya “Gara-gara film eta Aa teh janten sieun?” tapi dia bilang bukan gara-gara itu. Entahlah. Sampai-sampai kalo main PS atau kekamar mandi pun ga pernah berani sendiri. Kadang ribet juga, kalo ga ada teman-temannya aku harus menungguinya main PS seharian, padahal aku ga suka main PS, dirumah jadi ga bisa belajar. Do’ain ya teman-teman biar adikku ga jadi penakut lagi.
Tapi ia juga sangat pemberani. Sejak kelas 3 SD ia selalu penuh puasa Ramadhan, bahkan sering juga belajar puasa sunat. Saat bulan Ramadhan ia selalu mengikuti kuliah subuh bahkan setelah sahur sebelum adzan subuh dia berangkat kemesjid sendirian. Hampir tak pernah ketinggalan untuk sholat berjamaah subuh ,padahal hari masih gelap. Ia tak pernah takut, begitupun dengan sholat isya dan tarawaih ia selalu berangkat lebih dahulu daripada kakak-kakaknya, sendirian. Aneh padahal dirumah terang benderang saja pun gak berani ditinggal sendiri tapi malem-malem kemesjid sendirian berani. Aa ku yang aneh.
Sering aku merasa terharu dengan adikku ini. Saat pulang sekolah ia selalu lari-lari. “Teteh.. teteh.. Cepet buka panto, tos adan duhur bisi tinggaleun!” Kemudian bergegeas menuju kamarnya untuk ganti baju dan mengambil sarung menuju mesjid. Begitupun kalo Jum’atan iya berangkat dari jam 11.
“Teu acan aya batur bageur.” Kata mamah.
“Wios ah mah!” Aku dan mamah bisanya mengintip dari jendela, melihatnya berangkat ke mesjid.
Saat bulan Ramadhan ia hanya ngebatalin trus mengikuti sholat magrib berjamaah terlebih dahulu, bahkan sering cepet-cepetan kemesjid dengan teman-temannya takut keduluan mengumandangkan adzan.
Pernah suatu ketika aku ingin mengetest dia ngaji. “A, candak iqrona, urang ngaos yuk!” Kataku.
Betapa malunya aku saat Aa bilang, ”Teh, abi mah da tos quran, tos al-baqoroh halaman 43.” Tetehnya kok ga tahu kalo adenya udah quran dan ketika aku dengarkan bacaan qurannya udah bagus. Alhamdulillah.
Ada satu hal yang membuat aku kageeeeen banget sama Aa. Kalo dia angkat telephon lucu banget. Meskipun tubuhnya tinggi besar, kelas 4 pun sudah 40 kg, lebih mungkin. Tapi suaranya kecil banget mirip perempuan. “Teh Viaaa damang?” Katanya dengan suaranya yang kecil (padahal semua kakaknya bersuara keras dan besar meskipun perempuan.hihihi.. kebalik). Iya hafal betul dengan nomor HP ku, terkadang saat aku kuliah dia sering telephon ga jelas, tapi aku ga pernah marah, malah jadi pengen pulang, kangeen! Sering pagi-pagi aku dapet sms, isinya “Teteh iraha uih?” Pas aku tanya mamah atau Ena yang sms? Mereka selalu bilang ga tahu. Cuma mamah memang sering bilang “Aa pinjem HP Ena subuh-subuh, trus ngumpet, ketik-ketik sendiri, ternyata lagi sms teteh.” Hihihi… kangen kali mah dengan ci aku ini.
Tapi coba saja kalo aku pulang pasti gak ditanya, pura-pura gak kenal, gak kangen, ja’im. Awas ya A sekarang mah teteh gak bakal gendong lagi(ya..iyalah sekarang mah dah 40 kg lebih, tambah melebar dan pendek kalo gendong Aa mah.hihihi…)
Homesick nih!!! Kangennn Aa. Betapa Aku Mencintaimu A. I Miss You, I Love You So Much………

diambil dari FB, dibuat tanggal 15 Oktober 2009

Iklan

11 thoughts on “Betapa Aku Mencintaimu A 1

  1. Selamat. Semoga jadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah. Mendapatkan anak-anak yang jadi ladang amal nantinya, Amin.
    (ada pengumuman di achoey, jadi saya kasih selamat duluan, ya.)
    salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s