Cerita Tentang Aku dan Kau, Duhai Kekasihku…

Kemudian kau menemukanku sesaat sebelum aku benar-benar lelah menunggu menemukan rasa lagi. Kau datang seperti bulan saat malam, meski tak sebesar bintang, kau terasa lebih dekat, lebih terang. Saat siang panasmu seperti mentari, menghangatkan, mengunjungiku setiap hari, selalu hadir, tetap hadir dan kuyakini selamanya hadir. Tak seperti api panasnya begitu kuat namun membinasakan.

Yang aku tahu, kau mepercayaiku saat tak ada yang bisa aku berikan padamu. Yang aku tahu, kau membuatku bertahan saat ada banyak hal yang tak kupahami tentang dirimu dan sebaliknya. Yang aku tahu kau memilihku meski banyak kelemahan yang kau temukan padaku, kau memilihku diantara banyak orang yang berkorban untukmu bahkan saat aku mungkin mengecewakanmu, kau tetap memilihku. Ah… Lucu rasanya saat kau yang penuh dengan kriteria memilihku sebelum kita bertemu muka. Lucu rasanya saat aku selalu yakin menumbuhkan rasa itu perlu proses yang teramat lama ternyata aku memutuskan hal besar dalam hidupku untuk menjalani sisa hidupku bersama orang yang hanya berbincang sesaat ditelephon. Saat pertama kali bertemu untuk meminta izin kepada orang tua kita, mungkin untukku atau mungkin sama seperti yang kau rasakan, tak ada istilah jatuh cinta pada pandangan pertama, jantung berdebar-debar atau keringat panas dingin. Seperti yang pernah aku bilang rasa ini tak panas seperti api yang cepat habis bahkan membinasakan, rasa yang ini seperti mentari tak membakar namun aku tahu ada kekuatan yang dahsyat disana yang tak lekang waktu. Kekuatan itu ada diniat, keyakinan dan kalimat bismillahi tawakaltu ‘alallahu la haula wala kuwata ila billah yang kita ucapkan.

Saat itu memang tak selalu datar ada kalanya sifat egois menyelimutiku, banyak hal yang tak kupahami. Bahkan dibumbui faktor external seperti sulitnya mengurus persyaratan dan persiapan nikah karena kita long distance. Tapi kalo sekarang diingat ingat lagi itulah serunya, itulah pengorbanannya hingga akhirnya hari yang dinanti itu tibalah sudah. Nah saat itulah yang memuat jantung berdebar kencang, saat setelah akad diucapkan, saat dipelaminan, saat untuk pertama kalinya berpegangan tangan, saat diphoto berdua. Tentu saja aku grogi, ingin menggenggammu erat tapi rasa malu yang masih sangat besar menyelimutiku. Seperti kata orang, menikah itu seperti berbuka puasa setelah menahan nafsu maka berbuka itu begitu nikmat. Dimana saat yang tadinya diharamkan menjadi dihalalkan bahkan berpahala.

Kekasihku kau begitu lembut hingga sampai saat ini kau tak pernah sekalipun membentakku, bahkan berkata keraspun tidak namun tetap tegas, kau mengingatkanku secara istimewa saat aku salah sehingga sering benar-benar membuatku menyesal. Kekasihku kau itu begitu humoris tak henti membuatku tertawa saat aku didekatmu. Kekasihku kau tak pernah mengeluh saat aku telat memasakan makanan atau saat masakanku tak enak kau tetap menghabiskannya. Kekasihku kau selalu mendahulukan kepentinganku daripada kepentinganmu. Kekasihku kau begitu romantis, seingatku tak pernah kau berangkat atau pulang bekerja tanpa memeluk dan mencium keningku penuh sayang.

Trimakasih kekasihku atas cintamu. Suamiku Aku Mencintaimu. Aku bahagia hidup bersamamu, kelak tetaplah bersamaku selamanya. Aku ingin selalu memahamimu lebih dalam dan semakin dalam lagi. Amiin.

Iklan

13 thoughts on “Cerita Tentang Aku dan Kau, Duhai Kekasihku…

  1. Eeemmm…. romantis banggget. Kenangan dari perasaan yang ga mungkin bisa sama dengan orang lain. Semoga tetap seperti ini dan lebih romantis lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s