Puisi Sepasang Puisi

Wah.. Lama sekali rasanya saya tak pernah posting untuk berbagi cerita. Sebulan kemarin memang sering bolak-bakik ciamis-bandung untuk menjalankan aktivitas kuliah dan persiapan pernikahan yang InsyaAllah akan dilaksanakan pada hari kamis tanggal 3 juni 2010 dengan calon suamiku Cucu Haris :). Tak terasa ternyata tinggal 2 hari lagi menuju hari pernikahan kami. Mohon do’a dari semuanya semoga kita dapat menjadi keluarga sakinah, mawadah dan warahmah. Amiin.

Kami berdua senang sekali dengan puisi, kalo calon suamiku ini pintar sekali merangkai kata menjadi puisi yang indah dan saya senang membaca puisi. Meskipun saya tidak teralu terbiasa menulis, tapi kami berdua mencoba menyusun sebuah buku kecil yang terdiri dari 24 halaman yang berjudul Puisi Sepasang Puisi yang kami siapkan untuk cindramata penikahan kami.

Inilah gambar covernya

Betapa Aku Mencintaimu A 1

Mamah setengah terkejut ketika dinyatakan positif hamil lagi. Saat itu tahun terakhirku di SD. Dikeluargaku aku adalah anak sulung yang mempunyai 2 adik perempuan. Meskipun menurut mamah tak ada bedanya antara anak laki-laki dan perempuan, tapi wajar saja kali ini mamah ingin sekali dikaruniai anak laki-laki.
“Tok.. tok.. tok. Permisi!” Terdengar pintu diketok. “maaf saya mau menukarkan cowet dengan ulekan punya ibu, boleh?” Kata tetangga samping rumah. Kebetulan beliau pun sedang hamil dan terus menerus dikaruniai anak laki-laki, mungkin maksudnya supaya beliau dapat putri dan mamah dapat putra. Mamahku tak bertanya apa-apa dan langsung kedapur menukarkan cowet dengan ulekan milik tetangga itu.

Continue reading “Betapa Aku Mencintaimu A 1”

Rasa I


Seperti awan debu yang menjadi pelanet
Rasa yang mengabut pelan-pelan memadat menjadi entitas nyata.
Kemudian ada sungai mengalir disini.
Barisan pohon-pohon hijau, biru laut, nafas, gerak hidup disini.
Disuatu tempat yang bernama hati, keindahan yang disebut cinta.
5 Februari 2010

OBAT LUKA

Em.. tadinya ingin posting tentang puisi sepanjang perjalanan pulang tapi setelah dicari-cari ternyata ga ketemu, jadi posting puisi yang agak lama. Tak apalah, selamat membaca.

OBAT LUKA I

Langit sepertinya luka
Dari pagi sampai malam begini, terus saja menangis
Tunggu sebentar aku naik kebulan menemani nini anteh merajut langit
Yang kemarin koyak belum terjahit
Kalo langit hatimu, maukah kujahit lukamu?

Continue reading “OBAT LUKA”